PERKEMBANGAN AKHLAK MANUSIA


Perkembangan Akhlak Manusia




A. HEDOMISME 
Beberapa filsafat Yunani menyatakan bahwa manusia dari kodratnya mencari kesenangan, bahwa perasaan senang adalah baik dan perasaan-perasaan sedih adalah jelek. Hedonisme menyatakan bahwa tujuan hidup adalah kebahagiaan, atau mencapai kesenangan sebanyak mungkin (sebesar-besarnya) dengan jerih payah sesedikit mungkin (seksil-kecilnya).Tokoh utama aliran hedonisme adalah epikuros (341-270 SM). Epikuros yang mendirikan sekolah filosofi dilahirkan di Samos, pada tahun 341 SM dan meninggal di Athena pada Tahun 271 SM dalam usia 70 Tahun. Ia adalah guru flsafat di Mytilen dan Lamsakos. Pada tahun 300 SM, ia dating ke Athena dan mendirikan sebuah sekolah filsafat dengan nama “taman kaum epikuros”.
Epikuros tidak mempunyai perhatian terhadap penyelidikan ilmiah. Ia hanya mempergunakan pengetahuan yang diperolehnya dan hasil penyelidikan ilmu yang sudah dikenal, sebagai alat membebaskan manusian dari kekuatan agama, yaitu rasa takut terhadap dewa-dewa, ang ditanam didalam hati manusia oleh agama orang greek lama. Menurut pedapatnya, ketakutan agama itulah yang menjadi penghalang besar untuk memperoleh kesenangan hidup. Sebagai orang yang berasal dari yonia, ia banyak mengungkapkan pandangan filosofi alam milesia,yang atheis. Ia banyak menggunakan teori demokritos tentang atom dan geraknya  dalam lapangan kosong. Titik berat ajarannya terletak pada etik, tatasusila dan moral.
Menurut pendapat epikuros, filsafat harus merintis jalan kearah mencapai kesenangan hidup. Ia membagi filsafat dalam tiga bagian, yaitu logika, fisika dan etika. Pelajaran fisika yang diberikan kepada murid-muridnya didasarkan pada ajaran logika dan fisika merupakan landasan etika. Ia mengatakan bahwa tujuan manusia adalah kelezatan. Klezatan hidup ada tiga macam, yaitu sebagai berikut:
1. Kelezatan primer, yaitu kebutuhan pokok
2. Kelezatan sekunder, yang akan diperlukan ketika kebutuhan pokok telah terpenuhi
3. Kelezatan tertier, yang merupakan kelezatan yang melebihi akal sehat, seperti kelezatan mencari kemewahan dan harta kekayaan yang berlimpah
Ajaran etika epikuros adalah mencari kesenangan hidup. Kesenangan hidup menurutnya merupakan suatu yang paling tinggi nilainya. Mencari kesenangan hidup tidak berarti memiliki kekayaandunia sebanyak-banyaknya tanpa menghiraukan orang lain. Tidakan seperti itu tidak akan membawa kesenangan hidup. Kesenangan hidup, berarti kesenangan yang badaniah dan rohaniah. Badan merasa enak dan badan merasa tenteram. Yang paling penting dan paling mulia adalah kesenangan jiwa karena kesenangan jiwa meliputi masa sekarang, masa lampau, dan masa yang akan dating
Tujuan etik epikuros adalah didikan memperkuat jiwa untuk menghadapi segala macam keadaan. Dalam suka dan duka, manusia hendaklah sama perasaannya. Ia tetap berdiri sendiri dengan jiwa yang tenang, pandai memelihara tali persahabatan. Pengikut epikuros tidak mengeluh dan menangis jika orang yang dicintainya meninggal dunia. Bagi epikuros kematian itu tidak ada, sehingga tidak perlu menangisi ketiadaan.


2.  EMPIRISME
Empirisme adalah salah satu aliran dalam filsif yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan mengecilkan peranan akal. Istilah empirisme diambil dari bahasa yunani “emperia ” yang berarti coba-coba atau pengalaman. Sebagai suatu doktrin, empirisme adalah lawan rasionalisme. (ahmad sadali, 2004:116)
Sebagai tokohnya adalah Thomas Hobbes, John Locke, dan David Hume. Karena adanya kemajuan ilmu pengetahuan dapat dirasakan manfaatnya, pandangan orang terhadap filsafat mulai merosot. Hal ini terjadi karena filsafat dianggap tidak berguna lagi bagi kehidupan. Pada sisi lain, ilmu pengetahuan besar sekali manfaatnya bagi kehidupan. Kemudian beranggapan bahwa pengetahuan yang bermanfaat, pasti, dan benar hanya diperoleh lewat indra (empiri), dan empirilah satu-satunya sumber pengetahuan. Pemikiran tersebut lahir dengan nama empirisme
Penganut empirisme berpandangan bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan bagi manusia yng mendahului rasio. Tanpa pengalaman, rasio tidak memiliki kemampuan untuk memberikan gambaran tertentu. Kalaupun menggambarkan sedemikian rupa, tanpa pengalaman, rasio hanyalah khayalan belaka.
Thomas Hobbes (1588-1679), dalam tulisannya ia telah menyusun suatu system pemikiran yang berpangkal pada dasar-dasar empiris, di samping juga menerima metode dalam ilmu alam yang matematis. Namanya sangat terkenal karena teorinya tentang kontrak social, yaitu manusia mempunyai kecenderungan untuk mempertahankan diri. Apabila setiap orang mempunyai kecenderungan demikian, maka pertentangan, pertengkaran atau perang total tak dapat dihindari. Perang akan membuat kehidupan menjadi sengsara dan buruk. Bagaimana manusia dapat menghindarina maka diperlukan akal sehat, agar setiap orang mau melepaskan haknya untuk berbuat sekehendaknya sendiri. Untuk itu, mereka harus bersatu membuat perjanjian untuk mentaati/tunduk terhadap penguasa. Orang-orang yang dipersatukan disebut Commonwealth.
John locke (1632-1704), salah seorang penganut empirisme, yang juga “bapak empirisme” mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan, keadaan aklnya masih bersih, ibarat kertas kosong yang belum tertuliskan apa pun (tabula rasa. Pengetahuan baru muncul ketika indera manusia menimba pengalaman indrawi. Seluruh sisa pengetahuan diperoleh dengan jalan  menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari pengindraan serta refleksi yang pertama dan sederhana. (juhaya s pradja, 1997:18)
Akal merupakan sejenis tempat penampungan yang secara pasif menerima hasil-hasil pengindraan. Hal ini berarti semua pengetahuan manusia betapa pun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang telah tersimpan rapi didalam akal. Jika terdapat pengalaman yang tidak tergali oleh daya ingat akal, itu merupakan kelemahan akal, sehingga hasil pengindraan yang menjadi pengalaman mausia tidak lagi dapat diaktualisasian. Dengan demikian, bukan lagi sebagai pengetahuan factual.
Dalam pandangan empirisme akhlak manusia akan terus berkembang karena merupakan bagian dari penggalian pengalaman dan kebenaran yang diperoleh manusia adalah ketika pengalaman hidupnya semakin banyak, sehingga manusia akan memiliki kemampuan yang lebih cerdas dalam memilih dan memilah bentuk-bentuk perbuatan. Akhlak baik dan buruk diukur oleh pengalaman pribadinya masing-masing.


3.  HUMANISME
Humanisme menurut ali syariati (1992:39), berkaitan dengan eksistensi manusia. Humanism merupakan bagian dari aliran filsafat yang menyatakan bahwa tujuan pokok dari segala sesuatu adalah kesempurnaan manusia. Aliran ini memandang bahwa manusia adalah makhluk mulia yang semua kebutuhan pokok diperuntukan memperbaiki spesiesnya.
Ada empat aliran yang mengklaim sebagai bagian dari humanism, yaitu: (1) liberalisme barat, (2)marxisme,  (3) eksistensialisme, dan (4) agama. Liberalism barat menyatakan diri sebagai pewaris asli filsafat dan peradaban humanism dalam sejarah, dan dipandang sebagai aliran pemikiran peradaban yang dimulai dari yunani kuno dan mencapai puncak kematangan dan kesempurnaan relatifnya pada eropa modern.
Kaum radikalis yang merupakan pemikir-pemikir humanism modern dan penganjur-penganjurnya di eropa pada abad ke 18 dan awal abad ke 19 dalam keterangan yang mereka publikasikan pada tahun 1800 menyatakan, “singkirkan tuhan dari kaidah moral, dan gantikan dengan kata hati sebab manusia adalah makhluk yang mempunyai kata hati yang bersifat moral bawaan.” Kata hati yang bersifat moral (conscience morale), menurut persepsi dan pandangan mereka, tumbuh dari jati diri manusia, dan itulah yang dibutuhkan oleh watak dasar manusia.
Akhlak kaum humanis selalu mengedepankan kepentingan tertinggi manusia. Oleh sebab itu, jika masih ada ajaran agama, tuhan dengan segala tuntutannya pada manusia dan Negara yang mengatur kebebasan manusia, semuanya harus dilenyapkan karena sudah mendahului kepentingan manusia. Didunia ini, tidak ada lagi yang paling penting, kecuali manusia.
Pandangan humanis telah menjangkau filsafat tertinggi yang sekaligus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari eksistensialisme, yang ada didalamnya berprinsip pada nilai-nilai luhur kemanusiaan. Manusialah tujuan utama perbuatan, dan seluruh perbuatan ditunjukan kepada manusianya sendiri karena tuhan tidak membutuhkan akhlak manusia, tuhan pun harus segera disingkirkan dari keterlibatannya dengan urusan manusia. Lebih baik tuhan mengurus dirinya sendiri daripada ikut campur dengan urusan manusia yang terus berkembang dan bergerak secara progresif.
Humanisme yang modern dipandang oleh liberalisme barat-borjuis sebagai sistem yang menjadi landasan bangunannya, memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki keutamaan-keutamaan moral yang abadi dan nilai-nilai mulia yang lebih luhur daripada materi suatu keutamaan dan nilai-nilai yang menjadi inti penting satu-satunya bagi manusia. Liberalisme barat borjuis bersandar pada humanisme yang menjadi lawan naturalisme dan metafisika.
Humanisme telah mengambil semua moral kemanusiaan dari agama,tetapi emata-mata persoalan justifikasi keagamaan, humanism menolak atau menyingkirkan agama. Humanism menyatakan bahwa pendidikan spiritual dan keutamaan-keutamaan moral, dapat dicapai tanpa harus menganut agama dan meyakini adanya tuhan.


4. BEHAVIORISME
Peletak dasar aliran behaviorisme  adalah ivan petrovich Pavlov (1849-1936) dan William mcdougall (1871-1938). Menurut aliran behaviorisme, insting adalah kecenderungan tingkah laku dalam situasi tertentu sebagai hasil penbawaan sejak lahir dan tidak dipelajari sebelumnya. Semua tingkah laku manusia dapat dikembalikan pada insting yang mendasarinya, dan yang paling mennonjol mewariskan adalah orang tuanya kerena itu disebut insting orang tua (parental instinct)
Aliran behaviorisme memandang manusia sebagai makhluk yang tidak jauh berbeda dengan mesin (homo mechanicus) yang dapat dikendalikan prilakunya melalui proses pengondisian yang terus-menerus (conditioning). Sikap yang diinginkan dilatih terus-menerus sehingga menimbulkan maladaptive behavior atau prilaku menyimpang. Akhlak manusia dapat dibentuk sebagaimana akhlak binatang. Kebiasaan akan memudahkan manusia mengingat bentuk-bentuk prilakunya yang akan dipertontonkan. Misalnya, anak kecil yang dilatih secara terus-menerus menjadi pemain acrobat, ia akan semakin mahir berakrobat, demikian pula dengan seekor singa sirkus yang dilatih.
Agar tingkah laku manusia berkembang lebih baik, pelu dilakukan rekayasa dan modifikasi dalam pelatihan dan pendidikannya. Oleh sebab itu, pengaruh pendidikan dalam lingkungan keluarga dan sekolah yang berubah-ubah akan semakin mendewasakan anak didik, demikian pula pergaulan dengan lingkungan yang lebih luas. Anang pamangsah (2008:1-2) menjelaskan bahwa behaviorisme memandang prilaku manusia sangat ditentukan oleh kondisi lingkungan luar dan rekayasa pengondisian terhadap manusia tersebut. Pada awalnya, manusia netral dalam melihat dunia luarnya, baik atau buruk dari prilakunya ditentukan oleh situasi dan perlakuan yang dialami oleh manusia tersebut. Kemudian, pengaruh dunia luar meningkatkan daya berfikir dan daya adaptasinya. Contohnya seorang anak yang hilang ditengah hutan, lalu diasuh oleh sekumpulan serigala, ia akan bertingkah laku seperti serigala. Cara makan, berkomunikasi, mempertahankan hidup, menghindar dari bahaya, dan mungkin cara berjalannya. Gambaran tersebut digambarkan dalam sebuah sinema yang berjudul mogli dan tarzan.
Berdasarkan aliran ini di berbagai bidang pendidikan dan psikoterapi dilakukan proses pengembangan pembelajaran untuk anak didiknya serta proses penyembuhan bagi orang yang memiliki kelemahan bertingkah laku normatif. Dalam bidang pendidikan, dilakukan upaya merangsang anak didik agar lebih giat belajar dengan metode yang direkayasa melalui dua pola, yaitu pola instrumental dan pola verbalistik.
Pola instrumental adalah pola pembelajaran yang merangsang otak kanan manusia. Oleh karena itu, bentuk-bentuk belajar demonstrative, estetik, dan mengandung hiburan-hiburan terus dikembangkan. Misalnya belajar dengan metode outbond. Adapun belajar pola verbalistik lebih mengutamakan pemberdayaan otak kiri seperti belajar ilmu alam, fisika, kimia, dan matematika.
Rancangan yang diberikan kepada anak didik akan menimbulkan respons positif untuk pengembangan pikiran dan tingkah lakunya. Cara dengan inilah yang disebut dengan classical conditioning, yaitu suatu rangsangan yang mendua akan menggantikan kebiasaan tertentu oleh kebiasaan lain. Misalnya, seorang guru menyuruh membaca pada anak didiknya sambil bertepuk tangan. Jika dibiasakan dengan cara tersebut, tepk tangan seorang guru akan ditafsirkan oleh anak didik sebagai perintah membaca.
Menurut behaviorisme tingkah laku manusia memerlukan pujian utuk memuaskan dirinya karena kepuasan akan menimbulkan rasa bangga dan ingin mengulangnya kembali. Oleh sebab itu, tingkah laku yang membahagiakan cenderung ingin diulangi. Ini yang disebut dengan law of effect, yaitu prilaku yang menimbulkan akibat-akibat yang memuaskan akan cenderung diulang. Sebaliknya, bila akibat-akibat yang menyakitkan akan cenderung dihentikan.
Akhlak seseorang akan terus menguat apabila dengan akhlaknya diperoleh hasil yang memuaskan. Akhlaknya telah memberikan dampak positif atau dapat menghilangkan dampak negative. Misalnya dengan melaksanakan puasa, ia memperoleh kesehatan badan dan hilangnya penyakit asam urat dan diabetes yang selama ini menggerogoti tubuhnya. Dengan hasil tersebut ia akan semakin rajin puasa. Prilaku tersebut dalam behaviorisme merupakan operan conditioning, yaitu pola prilaku akan menjadi mantap apabila prilaku tersebut berhasil diperoleh hal-hal yang diinginkan pelaku.
Akhlak seseorang tidak terlepas dari proses peneladanan kepada orang lain. Berakhlak kepada orang tuanya, kawan-kawannya, tokoh idolanya atau ingin berakhlak seperti nabi Muhammad SAW. Dalam behaviorisme cara ini disebut dengan modeling, yaitu munculnya perubahan prilaku karena proses dan peneladanan terhadap prilaku orang lain yang disenangi.


5. FUNGSIONALISME
Fungsionalisme berpandangan bahwa manusia bertahan hidup dengan cara melakukan tingkah laku yang adaptable dengan lingkungan disekitarnya. Setiap adaptibilitas yang berkaitan dengan kelompok manusia tertentu disesuaikan dengan keadaan psikologisnya masing-masing secara normative. Setiap tingkah laku dimotivasi oleh rangsangan tertentu, demikian pula rangsangan berhubungan erat dengan respons yang sesuai. Jadi, stimulus dan respon keberadaannya bersamaan dan integral yang berwujud tingkah laku fungsional. Aliran ini lebih bersifat pragmatis dalam bertingkah laku dan mencapai tujuannya.
Tokoh-tokoh fungsionalisme yang terkenal diantaranya  William jame (1842-1910), john dewey (1859-1952), james Rowland (1867-1949),  angell, Harvey A carr (1873-1954), james mckenn cattell (1866-1944), E.I Thorndike (1874-1949), dan R.S Woodwoth (1969-1962).
Pada dasarnya, menurut aliran fungsionalisme akhlak manusia berada dalam tradisi normative yang tidak bernilai tinggi, tetapi setelah manusia memahami makna perbuatan dan tingkah lakunya, setiap perbuatan dinilai menurut fungsi dan manfaatnya. Jadi jangan dikerjakan apabila mengalami kerugian karena hal itu tidak fungsional. Misalnya, manusia menerima pekerjaan sebagai pemulung, serendah apa pun pekerjaan itu, karena mendatangkan uang yang dibutuhkan untuk kebutuhan hidupnya, manusia akan melakukannya dan bekerja dengan baik.


6. HASAN AL-BASHRI 
Nama lengkap hasan al-bashri adalah abu sa’id al-hasan bin yasar, dilahirkan di madinah pada tahun 21 H (632 M) dan wafat pada tahun 110 H (728 M). (hamka, 1986:76). Ia mengajarkan ilmu kebatinan dan kemurnian akhlak serta tentang ilmu penyucian jiwa.
Ajaran akhlak hasan al-bashri tentang hidup dan kehidupan sangat berarti bagi umat islam. Ia mengajarkan kehidupan yang tawadhu’, zuhud, sabar, syukur, khauf, raja’, dan ajaran tentang tafakur bini’mah. Manusia yang memahami dunia sebagai ladang beramal akan memiliki akhlak baik dan terpuji karena ia mengetahui dengan yakin bahwa amalnya tidak akan sia-sia dimata allah SWT.
Hasan Al-Bashri adalah sosok tabi’in yang senantiasa bersedih karena banyaknya mengingat akhirat, akan tetapi tidaklah hal ini sampai membawa beliau kepada akhlak orang-orang a’jam (asing) sebagaimana yang tersebar di zamannya.
Beliau adalah orang yang sederhana dalam hal makanan, dan mengenakan pakaian yang mudah bagi beliau. Beliau pernah ditanya tentang pakaian yang paling disukainya, maka ia menjawab: “Yang paling tebal, paling kasar (tidak licin) dan paling rendah menurut manusia.” Namun bukan berarti beliau membenarkan perbuatan sebagian ahlul ibadah dalam cara berpakaian mereka yang buruk, bahkan Al-Hasan pernah mengingkarinya. Sungguh pernah disebutkan kepadanya tentang orang-orang yang memakai baju shuf (wol, bulu domba) maka beliau berkata: “Kenapa mereka itu? Mudah-mudahan sebagian mereka kehilangan sebagian yang lain… mereka itu menyembunyikan kesombongan di dalam hati-hati mereka.”
Beliau menghafal Al-Qur’an pada usia 12 tahun, dan tidaklah beliau berpindah dari satu surat ke surat yang lainnya kecuali setelah mengetahui tafsir dan sebab turunnya surat tersebut. Beliau tidak mengurus satu dirham pun dalam perdagangan, bukan pula sebagai sekutu seorang penguasa. Tidaklah beliau memerintahkan sesuatu sehingga telah dilaksanakannya dan tidak pula melarang dari sesuatu sampai telah meninggalkannya


7. AL-GHAZALI
Ajaran-ajaran al-ghazali sangat terkenal, sebagaimana telah diuraikan dalam bab sebelumnya. Anjuran al-ghazali kepada umat manusia tentang akhlak adalah akhlak yang memilki keseimbangan duniawi dan ukhrawi, akhlak lahiriah dan betiniah. Manusia harus berakhlak dengan akhlak yang ikhlas. Oleh sebab itu, jiwa manusia harus bersih dari segala dosa. Awalnya perlu bertobat dan memperbanyak zikir dengan mengutamakan tahlil, takbir, dan tahmid kepada allah SWT.
Setiapa hari manusia harus menghisab diri, bila perlu  mengantongi batu kerikil untuk menghitung perbuatan baik atau buruknya. Mana yang bertambah? Apakah akhlak terpuji atau akhlak tercela? Jika akhlak terpuji terus bertambah, kerikil di dalam kantong semakin berkurang, jika akhlak tercela yang bertambah, kerikil di dalam kantong semakin bertambah.
Apabila di dalam kantong terdapat seratus kerikil, kemudian ia selama sehari berbuat lima kali kebajikan, kerikil berkurang jumlahnya menjadi 95. Sebaliknya, apabila sehari berbuat kejahatan lima kali, kerikil bertambah menjadi 105 buah. Begitulah cara menghisab diri dan merencanakan hidup dengan akhlak terpuji. Masalah teknis penempatan kerikil diserahkan kepada orangnya masing-masing.  


Daftar Pustaka
Saebani. Ahmad Beni dan Abdul Hamid. Ilmu Akhlak. Bandung: Pustaka Setia. 2010
Bahm, Archi J. Filsafat Perbandingan. Yogyakarta: Kanisius. 2003
Achmadi, Asmoro. Filsafat Umum. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2005

Tulisan ini bisa di download di: PERKEMBANGAN AKHLAK MANUSIA

0 komentar:

Poskan Komentar

Followers

Copyright © 2013 HJB Designed by :Ilham Ramdhan Gumelar.Cyber Imagination